Selasa, 26 April 2011

SKRIPSI HIV/AIDS


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
           Penyakit HIV/AIDS telah memberikan dampak buruk pada beberapa negara khususnya diarea sub Sahara Afrika dan Asia Tenggara. Angka prevalensi dan insiden secara bermakna menunjukkan bahwa banyak negara berkembang mengalami beban yang berlebih dibandingkan kemampuannya untuk mengatasi pandemik penyakit ini. Meliputi hampir seluruh aspek ekonomi, kesehatan dan sosial.
           AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS . Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh (Safri, 2005 : 2).
            WHO mengungkapkan bahwa dua puluh tahun sejak ditemukannya virus HIV secara klinis telah mengjangkiti sekitar 56 juta orang di seluruh dunia, 22 juta diantaranya meninggal dunia. Secara global pada tahun 2001 diperkirakan lebih dari 60 juta orang telah terinfeksi virus HIV, sebanyak 40 juta orang hidup dengan HIV (ODHA) dan 20 juta  lainnya tidak dapat tertolong. Menurut catatan UNAIDS, saat   ini di dunia terdapat peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS dari 36,6 juta orang pada tahun 2002 menjadi 39,4 juta orang pada tahun 2004. Penderita HIV/AIDS di Asia diperkirakan mencapai 8,2 juta orang, 2,3 orang diantaranya adalah perempuan. Satu dari empat kasus AIDS terjadi di Asia dan lebih kurang dari 1.500 orang meninggal dunia akibat virus HIV (Gobel, 2008 : 1).
      Sejak pengenalan AIDS untuk pertama kalinya di tahun 1981, telah dilaporkan lebih dari 20.000 kasus dari 71 negara maju. Menurut UNDP di Afrika negara terparah terserang AIDS adalah Zambia. Di negara tersebut 16,5 persen masyarakat dalam kategori dewasa terjangkit HIV. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa anak-anak yang dilahirkan di Zambia pada tahun 1999 bisa berharap hidup hingga usia rata-rata  47,6 tahun. Diprediksikan, dua belas tahun kemudian anak-anak yang dilahirkan di negara itu hanya bisa hidup hingga mencapai umur rata-rata 32,7 tahun  (Ariputra, 2010 : 1).
      Di China dan India diperkirakan terdapat 5 juta orang yang hidup dengan HIV dan AIDS pada akhir tahun 2002. Perkiraan resmi memprediksikan akan ada peningkatan sebesar sepuluh kali di China pada tahun 2010. angka yang mengingatkan kita bahwa meningkatkan angka kejadian HIV setiap menitnya di negara dengan populasi tinggi berarti berjuta-juta orang lebih terinfeksi virus (Berthelsen, 2010 : 2).
            Gelombang penyebaran penyakit HIV/AIDS di Tanah Air terus menguat, terutama di golongan orang-orang muda dan produktif. Jumlah keseluruhan kasus HIV/AIDS dalam laporan triwulan pertama tahun 2009 oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan Departemen Kesehatan RI mencapai 23.632 kasus, dengan angka kematian 3.492 jiwa, Tahun 2010 diperkirakan angka pengidap virus HIV mencapai 500 ribu orang  (Kompas, 2009 : 14).
            Diperkirakan pada tahun 2020 jumlah pengidap HIV/AIDS mencapai 2.000.000, untuk mengubah jalannya epidemik HIV/AIDS di seluruh Indonesia, diupayakan mencegah penularan sebanyak 1.000.000 orang pada tahun 2020 dengan merencanakan aksi nasional. Ada 8 sasaran kunci yang akan di capai hingga 1010 diantaranya adalah 80% populasi yang paling berisiko, terjangkau oleh program pencegahan yang komprehensif, perubahan perilaku pada 60% populasi yang beresiko (Metro Lacak, 2007 : 6).
            Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut jenis kelamin antara lain laki-laki mencapai 12.640 kasus, perempuan mencapai 4.239 kasus. Proporsi kumulatif untuk kasus AIDS menurut golongan umur antara lain usia dua puluh hingga dua puluh sembilan tahun mencapai presentase tertinggi yaitu 8.567 kasus. Sedangkan jumlah kumulatif kasus AIDS menurut resiko, antara lain heteroseksual mencapai 8.210, homoseksual mencapai 7.125 kasus, transmisi perivatal atau ibu yang sedang hamil yang meluas kepada bayi mencapai 390, dan tidak diketahui sebabnya mencapai 611 kasus. selanjutnya kasus AIDS terbanyak dari daerah jawa barat dengan 2.807 kasus, Jawa Timur dengan 2.652 kasus, Papua dengan 2.484 kasus dan Bali 1.263 kasus (Departemen Hukum & HAM, 2009 : 2).
            Di Sulawesi Selatan sendiri berdasarkan data Dinas Kesehatan  Propinsi Sulawesi Selatan sampai Desember 2006 terdapat 1.232 kasus HIV/AIDS, dan 1.109 kasus diantaranya terdapat di Makassar. Berbagai upaya dan strategi digunakan untuk mengendalikan  laju pertambahannya. Pemberian informasi dan sosialisasi mengenai HIV/AIDS menjadi suatu kegiatan yang diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat tentang HIV/AIDS (Dinkes Prop. Sulsel, 2007 : 2).
            Kasus AIDS di Sulawesi Selatan berdasarkan tahun pelaporan sampai dengan juni 2009 berkisar 2.736 kasus dengan penderita AIDS sekitar 702 penderita dan HIV (+) berkisar 2034 kasus. sedangkan kasus AIDS menurut golongan umur terbanyak remaja yaitu sekitar  umur 20-29 tahun sekitar 53,87%, umur 30-39 tahun sekitar 25,58%, sedangkan untuk umur 40-49 tahun sekitar 8,46% (Yayasan Gaya Celebes, 2009 : 21).
            Data dari Pokja HIV/ AIDS BLU RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo memperlihatkan data ODHA secara nasional untuk tahun 2007 sebesar 10.859 kasus, di Propinsi Sulawesi Selatan sebanyak 1.564 kasus sedangkan untuk Kota Makassar sebanyak 1.398 kasus. Khusus untuk penderita HIV/ AIDS yang berkunjung ke Pokja HIV/ AIDS BLU Dr. Wahidin Sudirohusodo setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah kasus penderita HIV/ AIDS yaitu mulai tahun 2004 hanya terdapat 25 kasus saja, sedangkan tahun 2005 mengalami peningkatan menjadi 92 kasus dengan 30 jumlah kematian dari jumlah tersebut hanya 37 penderita (40,22%) yang menggunakan ART, tahun 2006 terdapat 177 kasus dengan 44 kematian dengan jumlah pengguna ART hanya 62 penderita (35,03%), tahun 2007 terdapat 219 kasus dengan 83 kematian dengan jumlah pengguna ART 65 penderita (Gobel, 2008 : 2).
            Sementara itu berdasarkan data dari Pokja HIV/AIDS BLU RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2008 tercatat 220 kasus dengan  kejadian infeksi opportunistik  sebanyak 197 kasus (86%), sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 208 kasus dengan kejadian infeksi opportunistik sebanyak 172 kasus (82,7%). Padahal jika penderita HIV/ AIDS tersebut menggunakan ART sistem kekebalan tubuhnya akan terlindungi dari kerusakan dan mulai pulih kembali, sehingga memperkecil kemungkinan untuk terjadinya infeksi oportunistik dan kematiannya.
            Antiretroviral (ARV) bertujuan menghentikan aktivitas virus, memulihkan sistem imun dan mengurangi infeksi oportunistik, memperbaiki kualitas hidup dan menurunkan kecacatan. ARV tidak menyembuhkan pasien HIV,namun bisa memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang usia harapan hidup penderita HIV/AIDS (Nursalam, 2008 : 97).
            Namun pada kenyataannya setiap tahunnya tidak sampai 50% penderita yang datang ke Pokja HIV/ AIDS BLU RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menjalani pengobatan dengan ART, sehingga 65,9% di antara penderita HIV/ AIDS tersebut masih mengalami penyakit infeksi oportunistik yang disebabkan oleh daya tahan tubuhnya yang menurun, bahkan sampai mengalami kematian.


1 komentar:

  1. salam bisa tau gak sumber bahan materi hiv/aids diatas diambil dari buku apa?

    BalasHapus